Ada satu fase yang hampir selalu dialami programmer, entah masih junior atau sudah bertahun-tahun di dunia coding. Fase ketika kita tiba-tiba sadar, “Kayaknya gue perlu balik ke basic deh.” Ironis memang. Kita sudah paham berbagai framework modern, sudah deploy ke production, sudah main API, bahkan mungkin sudah terbiasa dibantu AI untuk debugging. Tapi tetap saja, kadang error sederhana bisa bikin kita menatap layar lebih lama dari yang seharusnya. Dan sering kali, masalahnya bukan sesuatu yang kompleks. Justru hal dasar yang kelupaan.
Saya pernah mengalami momen seperti ini saat mengerjakan project dengan framework modern seperti Next.js. Semua terlihat canggih dan rapi di permukaan. Routing aman, struktur folder sudah sesuai best practice, bahkan optimasi SEO sudah dipikirkan. Tapi ada satu bug yang membuat saya muter-muter cukup lama. Setelah dicek ulang dengan lebih tenang, ternyata hanya kesalahan logika sederhana pada kondisi if. Bukan masalah arsitektur. Bukan masalah framework. Hanya logika dasar yang kurang teliti. Di situ saya merasa sedikit tertampar. Sejauh apa pun teknologi yang kita pakai, semuanya tetap berdiri di atas fundamental yang sama.
Framework boleh berganti, tren teknologi boleh berubah cepat, tapi cara berpikir dalam programming tidak banyak berubah. Logika tetap logika. Struktur tetap struktur. Problem solving tetap jadi inti. Kalau fondasi kita kuat, belajar hal baru terasa lebih ringan. Dokumentasi saja sering kali sudah cukup untuk memahami pola kerjanya. Sebaliknya, kalau basic kita kurang solid, kita cenderung mudah panik saat error muncul, terlalu bergantung pada tutorial, atau sekadar copy-paste tanpa benar-benar paham kenapa kode itu bekerja. Ini bukan soal pintar atau tidak, tapi soal seberapa dalam kita memahami dasar.
Menurut saya, salah satu alasan kenapa basic sering terlupakan adalah karena kita terlalu cepat ingin naik level. Topik-topik seperti AI, scaling system, atau arsitektur kompleks memang terlihat lebih keren. Basic terasa membosankan karena dianggap sudah selesai dipelajari. Padahal kenyataannya, fundamental programming tidak pernah benar-benar tamat. Semakin lama kita berkecimpung di dunia coding, justru semakin banyak detail kecil dari konsep dasar yang baru kita pahami. Ditambah lagi sekarang tools semakin canggih. Auto-complete pintar, code generator, AI assistant—semuanya membantu. Tapi kalau kita tidak mengerti fondasinya, lama-lama kita hanya menjadi operator teknologi, bukan problem solver yang sesungguhnya.
Menariknya, programmer yang benar-benar senior biasanya justru sangat menghargai hal-hal fundamental. Mereka tidak terlalu sibuk mengejar tren, tapi fokus pada clean code, struktur yang jelas, penamaan variabel yang masuk akal, dan logika yang simpel. Banyak bug besar di production ternyata bukan karena teknologi yang terlalu canggih, melainkan karena kesalahan kecil dalam logika atau asumsi yang keliru sejak awal. Dan semua itu kembali lagi ke dasar.
Buat saya pribadi, kembali ke basic bukan berarti mundur. Justru itu bentuk kedewasaan dalam belajar. Ibarat membangun gedung tinggi, semakin tinggi bangunannya, semakin kuat pondasinya harus dibuat. Kalau suatu hari kita merasa sering bingung saat debugging, terlalu tergantung pada tutorial, atau sulit memahami error yang muncul, mungkin itu sinyal bahwa kita perlu memperkuat lagi fundamental kita. Bukan untuk menjadi pemula kembali, tapi untuk menjadi programmer yang lebih matang dan lebih tenang menghadapi masalah.
Dunia coding akan terus berubah. Framework akan datang dan pergi. Tools akan semakin pintar. Tapi pada akhirnya, programming tetap tentang cara kita berpikir secara logis dan sistematis. Dan semua itu selalu berawal dari basic. Jadi kalau kamu merasa perlu mengulang lagi konsep sederhana seperti loop, array, atau scope, jangan merasa turun level. Bisa jadi, justru di situlah kamu sedang naik level yang sebenarnya.
Beberapa developer khawatir bahwa penggunaan AI dalam debugging bisa membuat skill programming menurun. Saya sudah membahas topik ini secara mendalam di artikel tentang AI dalam debugging dan dampaknya terhadap skill programming.
Jika kamu menggunakan React tanpa framework tambahan, kamu perlu memperhatikan optimasi SEO secara manual. Saya sudah membahas lebih lengkap tentang tips mengoptimalkan SEO pada aplikasi React agar tetap ramah mesin pencari.
Sebelum membahas lebih jauh tentang optimasi SEO, kamu juga perlu memahami perbedaan dasar antara React dan Next.js. Saya sudah menjelaskannya di artikel Mengenal perbedaan serta kegunaan React.js dan Next.js.
Fenomena ini juga berkaitan dengan bagaimana AI mengubah cara kita belajar dan debugging. Saya sudah mengulasnya secara khusus di artikel Dulu Berdarah-darah Debugging, Sekarang Dibantu AI — Apakah Saya Jadi Programmer yang Lebih Lemah?.
Kemampuan menulis yang baik juga penting bagi programmer, terutama saat membuat dokumentasi atau artikel teknis. Saya sudah membahasnya lebih lengkap di Cara Membuat Copywriting Lebih Mudah Dan Lebih Cepat.

