Dulu Berdarah-darah Debugging, Sekarang Dibantu AI — Apakah Saya Jadi Programmer yang Lebih Lemah?

Refleksi web programmer dari era debugging panjang ke era AI cepat, tentang perubahan cara belajar, berpikir, dan memahami kode.
Dulu Berdarah-darah Debugging, Sekarang Dibantu AI — Apakah Saya Jadi Programmer yang Lebih Lemah?








Ada fase dalam perjalanan saya sebagai web programmer yang belakangan ini sering membuat saya berpikir cukup dalam. Bukan soal teknologi baru, bukan soal framework baru, dan bukan juga soal bahasa pemrograman baru. Tapi soal cara saya belajar, cara saya berpikir, dan cara saya bekerja yang berubah total sejak hadirnya AI. Perubahan ini awalnya membuat saya merasa aneh, bahkan sempat merasa seperti ada sesuatu yang “hilang” dari diri saya sebagai programmer.

Dulu, sebelum AI mudah diakses seperti sekarang, cara saya membuat project website sangat klasik. Kalau ingin membuat sesuatu, saya akan membuka YouTube, mencari tutorial satu per satu, membaca dokumentasi panjang yang kadang membuat kepala pusing, lalu mencoba memahami alur code dan workflow dari contoh yang ada. Prosesnya lambat, melelahkan, dan sering kali membingungkan, tapi di situlah proses belajar benar-benar terjadi.

Ketika terjadi error, saya membuka StackOverflow, mencari orang yang mengalami error yang sama, membaca diskusi panjang, mencoba memahami solusi orang lain, lalu mencoba menerapkannya sendiri. Tidak jarang, saya bisa menghabiskan waktu berhari-hari hanya untuk menyelesaikan satu error. Bahkan pernah dalam satu minggu, saya hanya fokus menyelesaikan satu error saja. Rasanya frustrasi, tapi ketika berhasil, kepuasannya luar biasa.

“Kadang, satu minggu hanya untuk menyelesaikan satu error. Tapi saat berhasil, rasanya seperti menang perang.”

Kalau saya membutuhkan sebuah fitur, saya akan mencari tutorial lagi, mencari template, membongkar cara kerjanya, mencoba memahami struktur kodenya, dan sering kali melakukan trial and error berkali-kali. Prosesnya benar-benar “berdarah-darah”, tapi tanpa saya sadari, itu membentuk sesuatu yang sangat kuat dalam diri saya. Saya jadi hafal banyak syntax, hafal pola workflow, memiliki insting debugging yang tajam, dan memiliki rasa penasaran yang sangat besar ketika menemukan error. Semua itu terbentuk karena saat itu tidak ada jalan pintas.

Sekarang, cara saya bekerja sudah sangat berbeda. Jika ingin membuat project, saya bisa brainstorming terlebih dahulu dengan AI. Jika terjadi error, saya cukup menyalin potongan kode dan meminta AI membantu menjelaskan di mana letak kesalahannya. Jika membutuhkan fitur, saya cukup menjelaskan kebutuhan saya, dan AI bisa membantu membuatkannya. Saya tidak perlu lagi menonton tutorial panjang, tidak perlu lagi membongkar template berbayar, dan tidak perlu lagi menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mencari satu solusi.

“Kalau sekarang ada AI, kenapa harus membuang waktu seperti dulu?”

Awalnya saya merasa ini luar biasa membantu. Tapi lama-kelamaan, muncul perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Debugging tidak lagi terasa seperti petualangan panjang. Syntax yang dulu saya hafal, sekarang sering kali saya lupa karena tahu bahwa saya bisa bertanya ke AI kapan saja.

“Kok rasanya tidak se-seru dulu ya?”

Bahkan muncul pertanyaan yang lebih dalam.

“Kalau tanpa AI, apakah saya masih bisa seperti dulu?”

Saya sempat takut bahwa skill saya menurun. Dulu saya hafal banyak hal, sekarang saya sering lupa syntax. Dulu debugging bisa memakan waktu berhari-hari, sekarang bisa selesai dalam hitungan menit. Secara logika, ini jelas lebih efisien. Tapi secara perasaan, ada sesuatu yang terasa berbeda.

Setelah saya renungkan, saya mulai sadar bahwa yang berubah sebenarnya bukan skill saya, melainkan cara otak saya bekerja. Dulu otak saya dipaksa untuk mengingat karena tidak ada tempat bertanya yang cepat. Sekarang otak saya belajar untuk memahami karena saya bisa bertanya apa saja ke AI.

“Dulu saya kuat karena hafal. Sekarang saya kuat karena paham.”

Saya juga menyadari bahwa yang saya rindukan ternyata bukan hafalan syntax. Yang saya rindukan adalah rasa penasaran saat debugging, rasa frustasi yang berubah menjadi kepuasan saat berhasil, sensasi “akhirnya ngerti!”, dan proses perjuangan panjang yang terasa sangat menantang.

“Ternyata yang saya rindukan bukan syntax, tapi rasa perjuangannya.”

AI menghilangkan sebagian besar proses struggle itu, dan tanpa struggle, kepuasan yang saya rasakan menjadi berbeda. Bukan karena hasilnya buruk, tapi karena prosesnya tidak lagi terasa “heroic”.

Namun di tengah semua itu, saya tetap memiliki satu prinsip yang tidak berubah. Saya tidak ingin menyalin mentah-mentah hasil dari AI tanpa memahami isinya. Saya tetap mencoba membuat fitur terlebih dahulu sebelum melihat jawaban dari AI. Saya tetap ingin mengerti isi kode dan alur project yang saya kerjakan.

Dan di titik ini, saya menyadari sesuatu yang sangat penting. Ketika saya bertanya pada diri sendiri:

“Di bagian mana saya merasa dulu lebih paham dari sekarang?”

Jawaban saya justru kebalikannya. Saya merasa jauh lebih paham sekarang. Karena dulu, ada banyak teori yang saya ikuti tanpa benar-benar saya mengerti. Saya mengikuti tutorial, saya meniru langkah-langkah, tapi tidak selalu memahami alasan di baliknya. Sekarang, saya bisa bertanya apa saja ke AI tentang hal-hal yang dulu tidak pernah saya pahami.

“AI bagi saya bukan mesin pembuat kode, tapi dosen privat yang selalu siap menjelaskan sampai saya benar-benar mengerti.”

Saya mulai melihat bahwa dulu saya lebih seperti seorang mechanic yang hafal cara memasang sesuatu. Sekarang saya lebih seperti engineer yang memahami kenapa sesuatu itu harus dipasang seperti itu. Dulu saya kuat di teknis dan hafalan. Sekarang saya kuat di konsep dan cara berpikir.

“Dulu saya hafal cara memasang. Sekarang saya paham kenapa harus dipasang seperti itu.”

Dan ternyata, kemenangan di level pemahaman itu rasanya lebih tenang, tapi kurang dramatis. Mungkin karena itulah saya sempat merasa seperti “dulu lebih jago”.

Pada akhirnya, saya menyadari bahwa saya tidak menjadi programmer yang lebih lemah karena AI. Saya hanya kehilangan sensasi nostalgia perjuangan yang dulu sangat saya nikmati. AI tidak membuat saya malas berpikir. Justru AI membuat saya bisa memahami hal-hal yang dulu tidak pernah benar-benar saya pahami. Kesimpulannya, dulu saya kuat karena hafal, sekarang saya kuat karena paham, dan di era sekarang, memahami cara berpikir di balik kode jauh lebih penting daripada sekadar menghafal syntax.



Front End Developer, Web Designer, Content Creator and Writer

Posting Komentar

© Nakamapedia. All rights reserved. Developed by Jago Desain