Saya sering ketemu pertanyaan seperti ini:
“Bang, enaknya belajar bahasa apa ya? Soalnya sekarang lagi banyak yang pakai JavaScript, tapi Python juga rame, Go juga katanya kencang…”
Pertanyaan itu wajar. Dunia programming memang penuh pilihan. Tapi ada satu kesalahan yang sering banget saya lihat — bahkan dulu saya sendiri juga pernah melakukannya — yaitu belajar banyak bahasa sekaligus, tapi tidak ada satu pun yang benar-benar dikuasai.
Kelihatannya keren. CV jadi panjang. Tapi ketika disuruh bangun sesuatu yang serius? Mulai goyah.
Terlihat Produktif, Padahal Hanya Lompat-Lompat
Awal belajar biasanya penuh semangat. Hari ini belajar JavaScript, besok pindah ke Python, minggu depan coba Go, lalu tergoda lagi dengan Rust.
Masalahnya bukan di bahasanya.
Masalahnya ada di kedalaman.
Belajar banyak bahasa secara setengah-setengah itu seperti kenal banyak orang, tapi tidak benar-benar dekat dengan siapa pun. Kamu tahu namanya, tahu wajahnya, tapi tidak tahu cara berpikirnya.
Dalam programming, yang penting bukan cuma sintaks. Yang jauh lebih penting adalah:
-
Pola berpikir
-
Cara menyelesaikan masalah
-
Struktur kode yang rapi
-
Best practice
Debugging
Hal-hal ini tidak bisa didapat kalau kita terlalu cepat pindah.
Kedalaman Itu Membentuk Insting
Waktu saya pertama kali benar-benar fokus ke satu bahasa (saat itu JavaScript), saya berhenti membanding-bandingkan dengan bahasa lain. Saya pakai untuk semuanya.
Bikin validasi form? JavaScript.
Ngatur logic backend? JavaScript.
Eksperimen kecil? JavaScript lagi.
Awalnya terasa membosankan. Tapi lama-lama ada yang berubah.
Saya mulai “merasakan” alur kodenya.
Mulai tahu bug biasanya muncul di mana.
Mulai paham struktur yang enak dibaca dan yang bikin pusing.
Itu bukan karena JavaScript spesial. Itu karena saya cukup lama tinggal di satu tempat.
Kedalaman membentuk insting. Dan insting itu mahal.
Banyak Bahasa Bukan Masalah, Asal Fondasinya Kuat
Saya bukan bilang belajar banyak bahasa itu salah. Justru bagus.
Tapi urutannya penting.
Ibarat bangun rumah, fondasi dulu yang harus kokoh. Setelah itu mau tambah lantai, balkon, atau rooftop café juga bebas.
Kalau fondasi belum kuat tapi sudah mau bangun banyak hal? Yang ada retak di mana-mana.
Ketika kamu sudah benar-benar paham satu bahasa, pindah ke bahasa lain itu jauh lebih mudah. Kenapa? Karena konsepnya mirip:
-
Variabel
-
Function
-
Looping
-
Conditional
-
Struktur data
Yang beda hanya gaya dan filosofi.
Kalau konsepnya sudah matang, adaptasi jadi cepat. Tapi kalau konsepnya masih dangkal, pindah bahasa cuma menambah kebingungan.
Realita Dunia Kerja
Di dunia kerja, orang tidak terlalu peduli kamu bisa 5 bahasa secara teori.
Yang dicari biasanya:
-
Bisa menyelesaikan problem atau tidak?
-
Kodenya rapi atau berantakan?
-
Bisa maintain project jangka panjang atau tidak?
Saya pernah lihat developer yang mengaku bisa banyak bahasa, tapi saat diminta refactor code sederhana saja kebingungan. Bukan karena dia tidak pintar, tapi karena belum pernah benar-benar tenggelam cukup lama di satu bahasa.
Sebaliknya, ada juga yang “hanya” jago satu bahasa, tapi dalam banget. Orang seperti ini biasanya lebih stabil performanya.
"Depth beats surface."
Fokus Itu Membuat Belajar Lebih Cepat
Ini paradoks yang menarik.
Ketika kamu fokus pada satu bahasa, justru kamu belajar lebih cepat.
Karena:
-
Tidak terdistraksi
-
Tidak membanding-bandingkan terus
-
Energi tidak terbagi
Otak kita suka konsistensi. Semakin sering kita menggunakan sesuatu, semakin efisien kita menggunakannya.
Itulah kenapa developer senior sering terlihat “cepat”. Bukan karena mereka hafal semuanya, tapi karena sudah terlalu sering berada di lingkungan yang sama.
Jadi, Harus Sampai Kapan Fokus?
Pertanyaan bagus.
Menurut saya, fokuslah sampai kamu:
-
Bisa membangun project nyata tanpa tutorial
-
Bisa membaca dan memahami dokumentasi tanpa panik
-
Bisa debugging tanpa langsung menyerah
-
Paham konsep dasar dengan solid
Kalau sudah sampai tahap itu, silakan eksplor bahasa lain.
Bukan untuk pamer, tapi untuk memperluas perspektif.
Penutup
Belajar banyak bahasa itu tidak salah. Tapi belajar dangkal di banyak tempat sering kali hanya memberi ilusi progres.
Kalau kamu masih di fase awal, saran saya sederhana: pilih satu bahasa, dan komitmen.
Tinggal di sana cukup lama. Bangun sesuatu. Rusakkan sesuatu. Perbaiki lagi.
Karena pada akhirnya, yang membuat kamu berkembang bukan banyaknya bahasa yang kamu tahu — tapi seberapa dalam kamu benar-benar memahami salah satunya.
Dan percayalah, kedalaman itu akan terasa bedanya.
Sering kali kita terlalu sibuk mengejar teknologi baru sampai lupa memperkuat dasar. Padahal fondasi itulah yang menentukan seberapa jauh kita bisa berkembang. Saya sudah membahasnya lebih dalam di artikel Mengapa Programmer Harus Kembali ke Basic Programming? Pentingnya Fondasi dalam Coding.
Beberapa developer khawatir bahwa penggunaan AI dalam debugging bisa membuat skill programming menurun. Saya sudah membahas topik ini secara mendalam di artikel tentang AI dalam debugging dan dampaknya terhadap skill programming.
Kalau kamu sedang membangun aplikasi React dan ingin tetap memperhatikan aspek SEO, saya sudah merangkum beberapa poin pentingnya di artikel Tips mengoptimalkan SEO pada aplikasi React agar tetap ramah mesin pencari.
Sebelum memilih stack atau pendekatan tertentu, ada baiknya memahami perbedaan dasarnya terlebih dahulu. Saya sudah menjelaskannya di artikel Mengenal perbedaan serta kegunaan React.js dan Next.js.
Perubahan cara debugging di era AI juga membawa perspektif baru tentang proses belajar kita sebagai developer. Saya membahas refleksi tersebut di artikel Dulu Berdarah-darah Debugging, Sekarang Dibantu AI — Apakah Saya Jadi Programmer yang Lebih Lemah?.

